Header Ads

Aninditha Rahma Cahyadi

Aninditha Rahma Cahyadi

Dibagikan kepada publik  -  3 Nov 2015
 
Perkenalkan, namaku Alana.
Aku termasuk gadis pendiam di antara seluruh keluargaku yang super duper heboh..

Kami adalah keluarga penyihir yang sangatlah bahagia, selama ini identitas kami tidak diketahui oleh masyarakat disekitar.

Ayahku seorang penyihir yang sangat lucu seperti badut.
Ayahku berprofesi sebagai kepala polisi.

Ibuku juga penyihir, dia sangatlah pintar. Ibuku seorang dokter gigi.
Dulu ibu sering menggunakan sihirnya agar anak-anak tidak takut untuk periksa gigi, tetapi lambat laun sihirnya pun jarang ia gunakan.

Dan aku gadis kecil yang lebih sering menutup diri karena kekuatan sihir yang aku miliki.
Beban bagiku mempunyai kekuatan aneh atau berbeda dari yang lain
Sering kali aku merasa tidak nyaman dengan kekuatan yang aku miliki.
Aku hanya ingin menjadi gadis bisa tanpa kekuatan sihir ini.

Aku mempunyai kakak laki-laki yang juga memiliki kekuatan sihir seperti anggota keluargaku yang lainnya, tapi sepertinya ia sangat menikmati hidupnya sebagai ABG berpredikat penyihir.
Kakakku mempunyai banyak teman, tetapi mereka tidak tau kalau sebenarnya keluarga kami berbeda dengan mereka.


Setiap pagi kehebohan biasa seperti keluarga normal lainnya..
Tiap pagi ibuku membangunkan kakakku Axel, yang selalu susah dibangunin.

“Axeeeeeeeel, ayo bangun!” teriak ibu.

Dengan sigap Axel pun terbang menuju kamar mandi dengan melayang sambil menutup matanya.

Aku kesal melihat tingkah laku Axel, "huh..." ujarku dalam hati.

Dilantai bawah kulihat ibu sedang menggerakan jari telunjuknya sambil membaca mantra merapikan kamar Axel diatas.

Sedangkan ayah menggunakan sihirnya untuk mengoles roti, kedua tanganya tetap memegang koran yang sedang asik dibacanya.

Sebenarnya memang sangat menguntungkan mempunyai sihir seperti yang kami miliki , kami tidak perlu lagi asisten rumah tangga dan sangat menghemat perekomomian , tapi semua itu membuat aku muak .

"Hai sayang" sapa ibuku seraya mencium keningku

"Hai bu.." balas ku seperti biasa tanpa ekspresi.

"Bagaimana kelasmu?apa ada cowok yang sudah mencuri hatimu?" tanya ibu memancing suasana.

"Huft...tidak... " jawabku sambil mengambil roti yang sudah ibu siapkan untukku.

Aku pergi bu.." ujarku mendengar klakson bus sekolah yang sudah ada didepan rumahku.

Ibu pun mengangguk seraya merapikan poni yang menutupi hampir setengah dari wajahku, dan dengan kututup lagi dengan sedikit anggukan kepalaku.

Kulihat Axel sudah siap dan sekarang sedang mengayunkan jarinya sambil membaca mantra membuat tas ranselnya yang dekil itu datang menghampirinya di ruang bawah.
Dan seperti biasa Axel pun tahu apa yang reaksiku melihat dia menggunakan sihir. Axel tersennyum senyum sok ganteng meliat wajah cemberutku.

"Menyebalkan!" gumamku

Setengah berlari kami mengahampiri bus , aku memilih duduk di tempat biasa didepan sementara Axel dibelakang bersama teman- temannya dan langsung sibuk bercanda.

Headset sudah kumasukan ke telingaku, aku agak malas mendengar cecikikan dan lelucon yang mereka ceritakan didalam bus setiap paginya seakan akan tidak ada habisnya.

Aku lebih nyaman duduk sendiri didekat jendela daripada ikut bergabung dengan mereka.
Tak lama bus berhenti menandakan ada anak komplek depan yang akan naik ke dalam bus sekolah.

Seorang anak laki laki masuk kedalam bus..
Anak itu memilih duduk disebelahku !

Aku menggerutu dalam hati mengapa dia harus duduk disebelahku bukankah masih banyak bangku yang kosong

Tanpa menoleh kulanjutkan perjalanan.
Tak lama bus sekolah sampai , kami pun segera bergegas menuruni bus.
Kulihat Axel sudah lebih dulu keluar dari bus bersama teman-temannya.

Kulangkahkan kakiku menuruni tangga bus.
Aahkh... kakiku melewati 2 anak tangga sehingga aku hampir terjatuh dan untung saja ada yang menahan bahuku.
Jantungku rasanya hampir berhenti sudah lama rasanya aku tidak jatuh, terakhir pas tk.

Karena aku bukan gadis yang ceroboh .
Dan hari ini hari yang sial bagiku...
Aku meringis kesakitan sambil mengelus elus mata kakiku yang agak terkilir.
Ternyata yang menolongku cowok yang tadi duduk disebelahku.

Bergegas kurapikan seragam sekolahku, kusibakan poni yang selama ini menutupi wajah murungku, kuucapkan terimakasih ke anak laki-laki tadi sambil berlalu dengan kaki yang masih terpincang –pincang menahan sakit berjalan menuju kelas.
Suasana dikelas seperti biasa , kehadiran kupun tidak menggangu aktifitas mereka.

Aku segera menuju ke kursiku didekat jendela dikelas aku juga tidak mempunyai teman.
Mungkin karena aku sangat malas untuk memulainya atau mereka malas berteman dengan orang aneh sepertiku
Satu-satunya sahabatku adalah Cherry yang tidak lain juga sepupuku yang mempunyai kekuatan sihir sepertiku.
Sebenarnya Cherry banyak memiliki teman tapi dia lebih memilih menemaniku..

Aku sedang asik melihat ke lapangan tennis melalui jendela kelas, sambil sesekali mengelus-elus mata kakiku yang masih sedikit sakit
Tiba-tiba Mr. Drew masuk dengan seorang anak laki laki, aku agak terkejut dengan pemandangan itu..

Ternyata itu adalah anak laki-laki yang menolongku tadi ,sambil melihat dari cela poniku kulihat anak laki-laki tadi juga sedang memandang kearahku.
Segera kukupalingakan pandanganku jauh-jauh

Dia memperkenalkan namanya Danis, dan dari gerak-gerik Shena yg menyatakan kalau anak baru ini termasuk yang bisa di perhitungkan.

Shena dan teman se geng nya pun mulai mengeluarkan jurus mautnya, dan berusaha menarik perhatian Danis dan otomatis cowok-cowok di kelas mulai merasa tersaingi dengan kehadiran Danis

Shena dan geng nya adalah cewek-cewek terpopuler disekolahku, mereka sangat fashionable barang-barang yang dipakai semua branded dari ujung kaki sampai ujung kepala dan ditunjang juga dengan wajah cantik dan body bak artis korea.. lengkaplah sudah.

Bagaikan makan di rumah makan padang semua ada dan lengkap.
Shena dan teman2 geng nya adalah impian para cowok-cowok dan aku pun yakin Danis juga pasti langsung suka dengan salah satu dari Shena dan geng nya.

Aku sibuk menulis buku harianku yang biasa aku isi setiap hari, tapi entah mengapa hari ini tak satupun kejadian yang bisa aku tuliskan didalam buku harianku. Penaku berhenti mendadak ketika, Danis berjalan kearah ku dan duduk disebelah kursiku.

Seisi kelas pun terdiam dengan pemandangan yang mereka saksikan, pasti mereka tadi berfikir kalo Danis pasti akan memilih duduk didekat rombongan Shena dan gengnya.

Anak-anak cowok dikelas menarik nafas panjang dan boleh merasa sedikit lega , tetapi disisi lain Shena dan gengnya merasa sedikit terhina karena cowok seganteng Danis memilih duduk disebelah gadis aneh sepertiku.

Aku merasa sedikit canggung atas kejadian tadi, kuurungkan niatku menulis buku harian segera kututup dan kumasukan kedalam tas, sambil membetulkan kursiku.

Danis pun menjulurkan tangannya kearahku
"Hai, aku Danis" ujarnya

" Alena. " jawabku sambil menarik cepat tanganku.

Aku yakin semua mata memandang kearah ku, aku merasa aneh dengan kejadian ini

Selama pelajaran belangsung aku merasa jam berjalan sangat lambat. Pelajaran bahasa Jerman yang paling aku sukai pun terasa sangat membosankan.
Aku merasa sangat gelisah dibuatnya, seakan akan ada yang salah dan Danis telah merenggut kehidupan normalku selama ini.

Bel pun berbunyi

Aku segera bergegas menuju kantin sambil mencari kursi yang agak pojokan agar tidak terganggu dengan khalayak ramai, sambil membawa bekal yang sudah disiapkan ibu.
Tak lama kulihat Cherry menghampiriku dengan senyuman khasnya yang menenangkan jiwa.
Ia pun segera duduk didepanku sambil membuka bekal makanan yang dibawanya dari rumah, dengan cepat Cherry memakan makanannya dengan tanpa basa basi

"Aku tidak sempat sarapan!" katanya sambil memasukan makanan kedalam mulutnya hingga penuh.

Kuurungkan niatku untuk menceritakan kejadian tadi pagi pada Cherry, takut bila aku ceritakan pasti makanan yang didalam mulut Cherry berpindah ke wajahku, takbisa ku bayangkan.


Kulihat Danis menuju kearah tempat dudukku..

"Oh tidak, mau apalagi anak itu?" ujarku dalam hati.

Kupalingakan wajahku dan berharap dia tidak melihat dan menggurungkan niatnya berjalan kearah kami.
Ingin rasanya kugunakan sihirku untuk segera menghilang dan tak terlihat oleh Danis.
(selama 11 tahun baru kali ini aku berniat menggunakan lagi kekuatan sihirku)
Tapi rupanya tangganku kurang cepat , langkah kaki Danis lebih dulu sampai ke arahku.
Cherry pun berhenti mengunyah makanan yang di makannya sambil sedikit melotot melihat pemadangan yang tidak seperti biasanya, melihat ada cowok setampan Danis yang mau-maunya duduk satu meja dengan kami.

Dengan cepat Cherry menangkap tangan Danis "Hai,aku Cherry !!"

Akupun tertunduk lesu, aku merasa kemerdekanku sudah diambil paksa seakan akan tidak ada lagi tepat yang nyaman di sekolah ini semenjak kehadiran Danis.

"Huft,menyebalkan..." gumamku

Ingin sekali ku sihir dia menjadi kodok atau menghilang dari penglihatanku.. Semakin menyebalkan tingkah laku Danis dimataku, membuat rasa laparku menjadi hilang seketika.

"Hai Alana, are u okay?" Danis bertanya.

Tanpa menoleh dan menjawab pertanyaanya ku palingkan pandanganku sejauh jauhnya, dan berharap dia tau kalau aku tidak suka atas kehadirannya.
Sementara itu Cherry seolah melihat Danis seperti pangeran tampan yang turun dari kuda sembrani nya...

Tiba-tiba Shena dan gengnya pun melewati meja kami. Pandangan mata Shena seakan akan ingin menerkamku lebih ganas daripada macam yang kelaparan.

Melihat gaya Shena dan gengnya yang mulai over-acting menarik perhatian Danis, membuat cowok-cowok di sekolahku hanya tertunduk lemas.. sehebat dan sedahsyat itukah Danis sampai-sampai Shena jadi seperti cacing yang kelaparan dan para cowok-cowok merasa ingin pergi ke Korea untuk operasi plastik.....



...bersambung
Post a Comment
Powered by Blogger.